Ini merupakan pengalaman pribadi saya ketika masih menginjak awal semester 2 di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Sebagai warga asli Jakarta yang kebetulan berkuliah serta menjadi mahasiswa di kota Surabaya tentunya, sehabis menyelesaikan satu semester dan demi mengisi waktu liburan saya pasti akan kembali ke kota dimana saya dilahirkan.
Hari itu, tepatnya Kamis malam di awal tahun 2013 yang dimana semua tetangga-tetangga samping kiri-kanan rumah saya sunyi seperti seakan semua orang beristirahat serta melepas penat dari pekerjaan-pekerjaan yang telah dilakoni sehari-harinya. Sebagai Mahasiswa yang telah menikmati liburnya tentunya saya ingin bernostalgia dengan kawan-kawan saya yang lama sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas Jakarta. Niat ingin bernostalgia yang besar itu segera luntur oleh kedatangan hujan angin besar yang akhirnya tidak kunjung berhenti selama (menurut perhitungan saya 7 jam - +)
Hujan yang besar tersebut selain menggagalkan acara nostalgia saya dengan kawan-kawan lama, secara tidak terduga juga angin yang bertiup kencang beserta dengan kilat yang berkali-kali pun telah merobohkan tanaman dan pohon jambu tepat sebelah rumah saya. Bunyi kilat "Blaarrr.., blarrrr yang berulang-ulang diikuti suara bruaakk..bruakkk saat pohon jambu tersebut jatuh" dengan kejadian tersebut sontak pula saya beserta keluarga kaget luar biasa dan segera mengecek situasi keluar. Angin bertiup semakin kenjang diikuti oleh hujan besar pun seolah juga mendorong saya dan keluarga untuk mengurungkan niat dan mengurung diri di dalam rumah.
Dalam keaadaan campur aduk, kuatir, kesal sambil menenangkan diri ditemani oleh secangkir hangatnya kopi hitam + beberapa makanan ringan di samping kiri kanan saya. Beberapa kali juga saya menyempatkan diri untuk menatap atap-atap rumah, genteng rumah yang bocor karena usia atap rumah yang tidak muda lagi serta sudah agak keropos dari segi kualitasnya. Seluruh anggota keluarga saya yang ada di rumah pun seolah tidak ada yang memperdulikan bocornya atap genteng di rumah, mereka semua terlalu sibuk dengan urusan masing-masing hingga saya seorang diri harus menggeser sofa-sofa di rumah agar tidak terkena tetesan air dan mewadahi tetesan air tersebut segera dengan beberapa ember plastik yang tersedia di rumah.
Pukul menunjukkan jam 1 pagi dan hujan yang kencang tersebut tidak kunjung usai, tepat sudah 3 jam setelah hujan itu mulai turun. Saya menyempatkan diri untuk menyalakan Televisi di kamar saya dan secara kebetulan terdapat pertandingan klub sepakbola favorit saya Chelsea fc melawan Southampton saat itu. Dikarenakan lokasi kamar saya di lantai dua, saya selalu menyempatkan diri untuk kebawah lantai satu untuk mengecek bagaimana kondisi-kondisi atap-atap yang bocor tersebut. Tidak terasa pertandingan sepakbola 2x 45 menit yang berarti 90 menit tersebut berkesudahan dengan skor 2-2 (imbang), sekali lagi hujan pun yang besar disertai angin yang kencang seolah abadi dan tidak kunjung berhenti.
Tanpa disadari pun saya terlelap tidur dengan pulasnya di kasur yang cukup nyaman ditambah lagi dengan selimut yang besar serta ruangan yang ber-ac. Sontak pagi harinya saya terbangun pukul 10 siang dan apa yang terjadi pun uda memang saya duga sebelumnya. Benar saja.., lagi-lagi banjir sudah tergenang semata kaki orang dewasa tepat di depan rumah saya, ini semua apalagi kalau bukan akibatnya dari hujan yang besar disertai angin yang kencang melanda kota Jakarta dan sekitarnya semalam sampai dini hari pada saat itu.
Banjir...memang bikin repot.., seolah saya dan keluarga serta para tetangga di samping kiri kanan rumah saya seperti orang hutang yang bak dikejar oleh para debt kolektor. Semua melupakan pekerjaannya, perkuliahannya apalagi aktivitas sehari-hari di dalam rumah sebut saja: memasak yang hingga akhirnya hal tersebut membuat saya lapar bukan mainnya. Semua segala persoalan yang seharusnya mudah menjadi ruwet, repot dengan datangnya bencana yang bolak-balik (banjir berulang-ulang) seperti ini. Terlintas juga berpikir untuk keluar untuk membeli sebungkus atau dua bungkus bubur akan tetapi hal itupun sirna dalam sekejap dan segera berpikir bahwa di dalam situasi ini pedagang mana yang rela berjualan dengan memikul atau mendorong gerobaknya menerjang air dimana-mana.
Sekali lagi dalam menahan situasi perut yang kosong, tidak lupa bahwa jujur saja saya belum memberishkan badan saya pada saat itu (mandi) dikarenakan kondisi kamar mandi yang tidak bisa dipakai karena selokan yang meluber hingga tidak adanya resapan air. Karena dianggap anak yang paling rajin di rumah dan mempunyai tenaga serta kekuatan yang lebih saya segera mengangkat sofa-sofa di dalam rumah demi menjaga segala sesuatu yang kemungkinan terjadi seperti masuknya air tersebut di dalam rumah.
Kejadian yang paling menjengkelkan adalah situasi dimana saya telah mengucurkan tetesan keringat setelah mengangkat sofa-sofa serta meja di rumah dan seharusnya beristirahat di kamar sejenak. Saya kembali disuruh menyelamatkan ratusan es di dalam kulkas dagangan saudara saya di sebuah cafe dekat rumah. Karena kondisi yang sudah tidak lagi dimungkinkan untuk berjalan kaki sontak saya sekeluarga berempat menaiki perahu karet atau yang lebih dikenal dengan "getek". Rasanya seperti berada di hutan Kalimantan bahkan sungai Amazon di Brazil kiri kanan melihat orang-orang duduk di atap rumah mereka masing-masing. Saya bersama ayah saya mendayung dengan sekuat tenaga bukan melawan arus air akan tetapi karena banyaknya jumlah sampah yang didominasi sampah plastik yang mengambang dimana-mana hal itu, cukup menghalangi perahu getek kami menuju lokasi yang dituju.
Segera saya bersama ayah saya mengeluarkan ratusan es yang hampir mencair dengan matinya kulkas yang telah tergenang air, untungnya saya dan keluarga belum terlambat. Sesampainya di rumah dengan selamat pun, dalam kondisi perut kosong saya mencoba menghibur diri dengan menonton televisi. Semua saluran televisi seolah menayangkan topik yang sama yatu apalagi kalau bukan tentang peristiwa banjir yang melanda ibu kota. Kejadian yang membuat saya agak malu ketika saya untuk pertama kalinya numpang mandi di rumah tetangga saya yang kamar mandinya tidak tergenang air dikarenakan rumahnya memang dalam posisi yang sangat bebas banjir dengan tingginya dataran tanah.
Memang Banjir bikin repot dan menyusahkan bukan saja aktifitas yang seharusnya jalan sesuai dengan biasanya, makanan dapat dijangkau dimana-mana, dapat santai sejenak di depan rumah, mandi di rumah dengan santai. Semua hal itu seolah sirna dalam sekejap karena datangnya bencana yang berulang-ulang biasanya pada awal tahun di ibu kota Jakarta terlebih lagi bahwa kejadian seperti banjir besar seperti ini terjadi 5 tahun sekali ( sebelumnya tahun 2008 ). Patut diwaspadai bagi para penduduk Jakarta dan sekitarnya terhadap bencana yang bikin repot ini, hadapi saja dengan sabar dan dengan kepala yang tegak serta dingin.