Surabaya – (24/6) Pergaulan remaja masa kini bisa dikatakan termasuk rawan karena terbukti dengan
banyaknya peristiwa yang terjadi seperti kasus-kasus pelecehan seksual yang marak terjadi ini disebabkan
oleh pergaulan mereka sendiri. Tindak penjualan jasa
seks atau yang biasa disebut prostitusi, kini telah mewabah ke dalam dunia
remaja, khususnya mahasiswi. Tidak heran apalagi Surabaya adalah pusat
prostitusi terbesar di Asia Tenggara (Dolly). Kebanyakan mahasiswi yang
terlibat dengan bisnis tersebut dikarenakan mereka yang terlibat bisnis
esek-esek tersebut umumnya adalah seseorang yang
miskin akan pendidikan seksual atau karena merupakan anak broken home dan tidak semua
dari mereka yang eknominya berasal dari menengah kebawah. Prostitusi yang
dilakukan oleh para mahasiswi ini biasa dikenal dengan ‘Ayam Kampus’. Istilah ayam kampus sendiri muncul karena pada era
80’an, dimana ada sebuah warung “Ayam Goreng” yang hanya menjual paha dan dada
ayam saja, dan warung tersebut mulai berjualan di sore hari menjelang malam.
Dengan melihat kesamaan antara warung ayam yang berjualan dengan aktivitas para
wanita yang menjajakan jasa seks tersebut, munculah istilah Ayam untuk
wanita-wanita tersebut. Di era 90’an berkembang menjadi istilah ‘Ayam Kampung’
bagi wanita pekerja seks yang berasal dari kampung, bahkan saat ini munculah
istilah ‘Ayam Kampus’ bagi wanita pekerja seks yang juga berprofesi sebagai
mahasiswi.
Mahasiswi yang mengaku pernah menjadi sebagai ‘Ayam
Kampus’, awalnya ia tidak mengenal apa itu prostitusi ‘Ayam Kampus’, namun
setelah ia diajak oleh temannya, ia kini mengetahui dan menjadi ketagihan, hal
ini dikarenakan tuntutan pergaulan dan lingkungan sekitarnya. Lalu kebanyakan
dari ‘Ayam Kampus’ untuk mendapatkan uang bisa dengan cara menemani om-om di
tempat karaoke, dan dengan cara nongkrong di cafe-cafe, atau ada juga yang
memasang link di situs-situs media sosial. Aktivitas ‘Ayam Kampus’ ini bersifat
sangat rahasia atau terselubung, Mereka berpenampilan layaknya mahasiswi biasa, dan
mereka cenderung mahasiswi yang pasif dalam kegiatan di kampus.
Berikut
wawancara dari tiga mahasiswa di Universitas Widya Mandala Surabaya mengenai
masing-masing dari pendapat atau tanggapan mereka tentang prostitusi di
kalangan mahasiswi yang akrab dengan sebutan ‘ayam kampus’. Masing-masing dari
tanggapan mereka bermacam-macam yaitu; merasa prihatin dengan profesi yang
ditekuni tersebut karena masih banyak pekerjaan-pekerjaan lain yang jauh lebih
halal contohnya bisa menjadi seorang SPG (sales
promotion girls). Kemudian, ada juga yang berpendapat bahwa profesi seperti
‘ayam kampus’ harus diminimalisir/dikurangi karena sebagai mahasiswi harus
menempuh pendidikan dengan baik. Pandangan positif atau negatif dari ‘ayam
kampus’ itu sendiri menurut ketiga mahasiswa ini; dari sisi negatif sendiri
bahwa seorang mahasiswi dapat menjadi efek yang kurang baik terhadap
mahasiswa-mahasiwi lainnya dan harga diri seorang wanita dapat dibeli dengan
beberapa jumlah uang. Sebaliknya, dari sisi positif sendiri menekuni profesi
seperti ini dapat menaikkan ekonomi (status keuangan mahasiswi itu sendiri). Pendapat Ketiga mahasiswa jika memiliki teman
yang berperan sebagai ‘ayam kampus’; membantu
mencari pekerjaan yang lebih layak, dukungan serta saran untuk meninggalkan
profesi itu dan bukan berarti mengucilkan teman yang menekuni profesi ‘ayam
kampus’.
Pertanyaan tentang
apabila ketiga mahasiswa ini berada di posisi pemerintah apa yang akan mereka
lakukan untuk mengurangi prostitusi khususnya di daerah Surabaya. Masing-masing
dari ketiga mahasiswa ini menjawab; prostitusi tidak dapat dipisahkan maupun
dihilangkan karena akan terjadinya tingkat kriminalitas yang tinggi dan
terjadinya pemerkosaan dimana-mana. Kemudian akan memberikan
peraturan-peraturan serta pemantauan yang ketat setiap harinya dan juga pengawasan
yang ketat di setiap waktu, dimana saja bahkan di kalangan kampus. Ada juga
yang berpedapat bahwa prostitusi yang terbesar di Surabaya (Dolly) ditutup dan
membiarkan institusi-institusi seperti ‘ayam kampus’ berdiri sendiri.
Berita terkait:
